
METRO – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Metro menyelenggarakan Masa Ta'aruf (Masta) IMM FAI UM Metro 2026 dengan mengangkat tema “Membentuk Kader Adaptif dan Intelektual dalam Menghadapi Transformasi Era Disrupsi.” Kegiatan yang diikuti 48 mahasiswa baru FAI UM Metro ini menjadi bagian dari proses pengenalan dan pembentukan karakter kader di tengah perubahan sosial, teknologi, dan tuntutan kompetensi yang semakin dinamis.
Ketua Umum PK IMM FAI UM Metro, Muchtar Efendi, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menghadapi bonus demografi Indonesia. Menurutnya, jumlah penduduk usia produktif perlu diimbangi dengan penguatan ilmu pengetahuan, karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk membaca persoalan dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Dalam konteks tersebut, organisasi mahasiswa dipandang sebagai ruang pembelajaran yang melengkapi proses pendidikan di perguruan tinggi. Pendidikan dan pengajaran dapat diperkuat melalui perkaderan dan kajian, tradisi penelitian dikembangkan melalui diskusi serta budaya menulis, sedangkan pengabdian diwujudkan melalui keterlibatan dalam berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Pengalaman berorganisasi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, bermusyawarah, memimpin, dan bertanggung jawab.
Ketua Umum Koordinator Komisariat IMM UM Metro, Dimas Wicaksono Wibowo, S.M., menyoroti pentingnya kemampuan kader dalam merespons perkembangan zaman. Adaptasi terhadap teknologi dan perubahan sosial, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai Islam. Kader IMM diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan prinsip gerakan. Sementara itu, Ketua Cabang IMM Kota Metro, Harist Al-Asad, S.Sos., mengingatkan pentingnya menjaga nilai keislaman dan kebersamaan sebagai bagian dari kehidupan kader persyarikatan.
Dekan FAI UM Metro, Muhammad Nur, M.Kom., memberikan dukungan terhadap proses perkaderan mahasiswa dan berharap mahasiswa baru dapat berkembang menjadi pribadi yang berilmu serta berakhlak mulia. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa proses pembentukan mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui pengalaman organisasi dan kehidupan kemahasiswaan.
Penguatan wawasan Kemuhammadiyahan disampaikan oleh Dr. Heri Cahyono, M.Pd.I. Ia mendorong mahasiswa untuk membangun kemandirian, mengembangkan ilmu dan akhlak, aktif berdakwah, memiliki kepedulian sosial, serta berani melakukan inovasi. Adapun materi Ke-IMM-an yang disampaikan Renci, M.Pd., memperkenalkan identitas, sejarah, tujuan, dan nilai-nilai IMM sebagai landasan bagi mahasiswa dalam memahami posisi mereka sebagai kader.
Pemahaman tersebut kemudian diperdalam melalui diskusi kelompok dengan metode jigsaw. Metode ini memberikan ruang kepada peserta untuk bertukar gagasan, memahami materi dari perspektif yang berbeda, sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama.
Melalui Masta IMM FAI UM Metro 2026, proses perkaderan diarahkan tidak berhenti pada pengenalan organisasi, tetapi menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk membangun kapasitas intelektual, karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa baru FAI UM Metro dalam menghadapi transformasi era disrupsi sekaligus mengambil peran sebagai kader yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan persyarikatan. Crew